Segitiga Maut
Kamis, 25 Maret 2010
Kabut pagi mulai menghilang dari pandangan. Sang mentari pun mulai menyengatkan sinarnya. Terlihat tubuh seorang pria bernama Tegar tergolek lemas penuh darah dengan nafas tak beraturan di kandang kuda kesayangannya. Kepala Tegar terpangku oleh paha seorang wanita yang sedang membelai rambut Tegar dan memegang belati yang menancap di dada Tegar. Tiba-tiba, tangan kiri Tegar memegang pipi kanan sang wanita yang penuh dengan air mata. Dengan terbata-bata, Tegar pun berkata,”Dita, iblis apa yang merasukimu dan membuatmu buta....?”. Sang wanita berpanggilan Dita pun hanya tersenyum kecil dan berbisik,”harusnya kau tahu kalau aku cinta mati sama kamu”. Selepas bisikan dari Dita tersebut, Tegar pun pergi dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Dicabutlah belati yang menancap di dadanya dan terdekap eratlah tubuhnya.
Suara lalat membising di tempat di mana jasad Tegar mulai membusuk. Bau menyengat pun memenuhi kandang sempit beralas jerami yang gelap jika malam datang. Dua hari sudah Tegar meninggalkan dunia ini. Selama itu pula Dita duduk termangu dalam kegelapan malam di sudut kandang dengan tatapan kosong dan kenangan tentang waktu yang ia telah lalui bersama Tegar. Rambut ikal dan wajahnya yang mengusam serta tenggorokannya yang mengering tak dihiraukannya lagi.
Dalam kandang yang gelap pada malam hari itu, melayanglah pikiran Dita ke alam yang tak seorang pun bisa masuk kedalamnya, yaitu masa lalu. Senyuman kosong tampak di wajahnya saat tersirat memori di mana ia berkenalan dengan Tegar secara tidak sengaja. Lamunannya pun mengalir menuju waktu ketika Tegar menyatakan isi hatinya. Lalu teringat saat mereka kehujanan ketika berkuda, saat mereka saling mengisi, saat mereka tertawa, saat mereka berciuman, saat mereka dalam masalah, saat mereka berbaring di bawah pohon apel, saat mereka kebingungan, saat mereka tersesat, saat mereka berbagi, saat mereka saling memberi semangat, saat mereka jauh, saat mereka takut, saat mereka menunggu, saat mereka saling menjaga, saat mereka berpelukan, saat mereka suntuk, dan saat mereka berjanji untuk bersama selamanya. Namun, senyum kosong di wajah dita berubah menjadi tangis tanpa suara saat ia teringat akan suatu malam ketika ia melihat langsung Tegar sedang bercumbu mesra dengan seorang yang ia kenal betul, yaitu Marni. Masih teringat jelas di kepala Dita percakapan malam itu.
“Marni, maukah kau menikah denganku?” kata Tegar sembari mencium tangan kanan Marni.
“Oh, aku tersanjung. Tapi, bagaimana dengan adikku? Kalian masih berpacaran, kan?” jawab Marni dengan tatapan pasrah yang ditujukan kepada Tegar.
“Dita? Dia masih sekolah, kan? Lagipula, kau tak tahu kan kalau aku pacari Dita agar aku bisa dekat denganmu? Aku bisa kok putusin hubunganku dengan Dita sekarang juga kalau kamu mau menikah denganku.” kata Tegar meyakinkan Marni.
“Tapi, apa kau tak pedulikan perasaannya?”
“Dia masih muda, Ni. Masih bisa kan dia dapat cowok lain yang seumuran. Sedangkan aku, umurku duapuluh empat tahun dan orang tuaku sudah berulang kali menyuruhku untuk segera menikah. Nggak mungkin kan aku menikahi Dita yang masih sekolah?”
“Apa nggak sebaiknya kamu tunggu Dita sampai sekolahnya selesai?”
“Aku nggak bisa, Ni. Itu hanya membuang-buang waktu.” Keduanya pun terdiam. Marni pun bimbang.
“Jadi, apa kau bersedia menikah denganku?” tanya Tegar untuk memastikan.
“Ya. Aku bersedia.” Keduanya pun berciuman. Bersamaan dengan itu, Dita yang menguping pembicaraan mereka meninggalkan tempat itu dengan air mata yang tak tertahan. Tegar dan Marni tak sadar bahwa pembicaraan mereka menyayat hati Dita. Dita menangis di dalam kamarnya untuk waktu yang cukup lama, dengan disertai kebimbangan.
Dita yang mengunci dirinya di dalam kamar dalam waktu yang cukup lama pun akhirnya memutuskan untuk keluar. Ia menuju garasi dan mengambil satu jerigen penuh bensin. Di pagi yang masih gelap dan berkabut, ia bergegas menuju kediaman Tegar di daerah yang cukup terpencil di kawasan perbukitan, yang berjarak lima kilometer dengan berjalan kaki dan menenteng satu jerigen bensin. Sesampai di rumah Tegar, Dita mendapati kuda kesayangan tegar sedang di luar kandang. Dita pun langsung mengambil keputusan bahwa Tegar sedang di dalam kandang kuda kesayangannya itu. Intuisi Dita benar. Didapatinya Tegar sedang membereskan isi kandang. Dita kembali menangis dan terlepaslah jerigen berisi bensin dari genggamannya. Suara jerigen yang jatuh membuat Tegar menengok ke arah Dita. “Hey. Apa kabar? Kemana saja dua hari kemarin?” tanya Tegar. Dita hanya memandang kabur wajah Tegar. “Kamu sakit? Di-SMS nggak dibalas, telepon nggak diangkat. Padahal aku mau ngomong sesuatu lho, Dit.” Dita pun melihat belati tergeletak di meja kecil di dekat Tegar berdiri. Ia pun bergegas mengambilnya dan tanpa pikir panjang, ia hujamkan belati itu di dada Tegar berkali-kali secara membabi buta tanpa perlawanan, hingga akhirnya tegar terbujur kaku dan membusuk di hadapannya. Memori itu lah yang membising terus-menerus di otak Dita sesaat setelah Tegar tewas hingga malam ini.
Lamunan Dita melayang lagi dari awal ia bertemu dengan Tegar. Namun, tanpa sengaja, tangan Dita menyentuh jerigen yang ia bawa dua hari lalu. Ia pun membuka tutup jerigen tersebut, dan menuangkan bensin ke sekujur tubuhnya. Dita yang terbutakan kegelapan malam pun meraba sekeliling mencari korek api. Namun ia tak menemukannya. Ia tak membawa korek api dua hari lalu. Dita pun melupakan korek api dan tertelungkup di kandang gelap itu.
“Tegar.... Kamu di mana sih?” Teriak Marni dari luar kandang. Marni tidak paham apa yang sedang terjadi di kediaman Tegar. Gelap, tanpa satu lampu pun menyala, dengan kuda kesayangan Tegar yang sedang tidur di teras rumah dan pintu rumah yang terbuka. “Tegar.... Kok gelap banget? Kamu dimana?” teriak Marni lagi. Tanpa pikir panjang, Marni yang juga sedang kebingungan mencari Dita pun masuk ke dalam rumah, menyalakan lampu, dan mencari Tegar dan Dita ke seluruh ruangan, namun ia tak menemukan mereka. Lalu ia menuju kandang kuda kesayangan Tegar. Sesampai di teras, Marni kembali ke dalam rumah untuk mencari lampu senter karena ia ingat bahwa kandang kuda tidak ada lampunya, jadi gelap saat malam hari. Setelah lama mencari, ia tidak menemukan senter. Ia pun menuju dapur dan menemukan korek api.
Setelah mendapat korek api, Marni bergegas menuju kandang. Saat mendekati kandang, bau busuk tercium oleh hidung Marni, tapi tidak ia hiraukan. Saat membuka pintu kandang, Marni mencium bau busuk yang sangat menyengat bercampur dengan bau bensin. Marni pun mengambil korek yang ia dapat dari dapur tadi, dan dengan menahan nafas, ia bergegas menyalakannya. Namun batang korek tersebut patah. Begitu juga saat ia mencoba untuk menyalakan batang korek kedua dan ketiga. Marni terus melanjutkan usahanya walau tiga batang korek gagal dihidupkannya.
Marni pun mengambil tiga batang korek sekaligus, lalu ia goreskan di lapisan zat kimia yang terdapat di salah satu sisi kotak tempat korek api yang ada di tangannya. Menyalalah tiga batang korek api yang ia nyalakan sekaligus dengan cukup terang. Bersamaan dengan menyalanya korek api tersebut, mata Marni terbelalak mendapati jasad Tegar yang telah membusuk dan dipenuhi belatung dan tubuh Dita yang tertelungkup di dekat kaki kirinya. Marni yang sangat terkejut pun tak bisa menggerakkan tubuhnya, dan tak bisa berkata apa-apa. Tiga batang korek api yang menyala cukup terang yang berada di tangan Marni pun terlepas, dan bertemu dengan bensin yang tercecer di lantai jerami. Marni pun pingsan. Api dari tiga batang korek itu pun membakar bensin yang tercecer di atas jerami, dan merambat ke tubuh Dita, dan tak lama kemudian membakar kandang kuda beserta apapun yang ada di dalamnya.
Kuda kesayangan Tegar yang sedang tidur di teras rumah pun terbangun dan hanya memandang tempat di mana selama ini ia dikandangkan terlalap habis oleh api.
Setelah cukup lama membakar kandang kuda beserta isinya, api pun padam dengan sendirinya tanpa membakar bangunan lain di sekitarnya.
Warga yang melihat kepulan asap di pagi hari dari arah kediaman Tegar pun menghampiri dan mendapati tiga mayat manusia terpanggang habis dalam kandang kuda.
Tamat.
0 comments:
Posting Komentar