Hati Incaran Kanibal
Kamis, 25 Maret 2010
Namaku Amin. Kini aku hanya bisa duduk di pojok ruangan kecil berjeruji besi yang terkunci dengan rasa takut yang membising tiada henti di dadaku. Aku tak mengerti mengapa orang-orang di sekitarku tidak memperlakukanku seperti manusia normal pada umumnya. Mengapa aku dikurung dan kakiku diikat? Aku bukan pencuri. Aku bukan perampok. Aku bukan teroris, bukan pula koruptor pemakan uang rakyat.
Aku tahu benar apa pekerjaanku. Aku hanyalah pemulung yang mengumpulkan kardus-kardus, botol minuman bekas, dan kertas bekas dari tempat sampah-tempat sampah di pinggir kota Magelang sebelum Secang. Semua hasilku memulung kujual pada juragan rosok di Secang. Memulung sudah menjadi mata pencaharianku selama dua tahun untuk menghidupi diriku dan ibu angkatku yang hidup di rumah kardus yang sangat tidak nyaman jika musim hujan tiba. Namun, mengapa aku dikurung dan kakiku diikat? Apakah karena aku miskin?
Aku tersentak ketika seseorang membuka pintu ruangan dimana aku dikurung dan diikat. Seorang wanita berpakaian putih dengan topi putih bergambar tanda “tambah” membawa nampan berisi piring dan gelas. “Amin, ayo maem. Wes tak gawekke bubur ayam kesenenganmu kie. Ayo maem dhisik ben cepet sehat.” Kata wanita itu kepadaku. Aku hanya bisa memandangi wajah wanita itu dengan penuh rasa takut. Ku rasakan trauma mendalam di dalam hatiku. Wanita itu duduk di hadapanku, mengambil sesendok bubur ayam yang terlihat masih hangat, lalu mendekatkan sendok penuh bubur itu ke mulutku. Mulutku terbuka tanpa ku perintah, dan masuklah bubur tersebut di mulutku. Hangatnya bubur dapat kurasakan dengan lidahku. Tanpa kukunyah, bubur di dalam mulutku langsung ku telan. “Oh, Amin wes pinteeeer. Hore.... Ayo, buka maneh tutukke....” Kata wanita itu sambil mengambil bubur lagi dengan sendok.
Tiba-tiba, setelah tiga sendok bubur ku telan, tanganku menyambar mangkuk berisi bubur ayam yang baru berkurang tiga sendok hingga bubur yang masih hangat tadi mendarat di dada wanita tersebut. Bersamaan dengan itu, wanita itu menjerit kaget hingga dua pria berpakaian putih datang menghampiri dengan sigap. Pipi kiriku ditampar oleh salah seorang pria berpakaian putih tadi dengan cukup keras. “Ardi! Ora ngono carane ngurusi wong edan! Arep piye-piye, wong edan kie yo tetep menungsa to?! Ora oleh dhewe main tangan karo wong edan! Tergekno, nek awak dhewe lembut, tulus, lan ora macem-macem karo wong edan, dheknen ora bakal macem-macem karo awak dhewe kok!” Kata wanita yang dadanya berlumuran bubur hasil ulah tanganku yang tak bisa ku kontrol. “Tapi, kui buktine. Klambimu reget to?!” Jawab pria tersebut. “Iki resiko dadi dokter RSJ, Di! Awak dhewe ora oleh nyalahke dheknen. Dheknen kie edan, Di. Dadine ora sadar karo opo sing dilakoni. Mbok ngertiyo sithik!” Sahut wanita tadi dengan mata berkaca-kaca sambil bergegas dari hadapanku. Bubur dan mangkuk yang tercecer di lantai pun dibereskan olah dua pria yang datang setelah wanita yang sudah pergi menjerit.
Setelah lantai bersih dari bubur, pria yang tadi menampar pipi kiriku mengunci pintu tralis besi sambil menatap mataku dengan penuh kebencian. Tunggu! Aku kenal tatapan itu! Ya! Ketika itu, aku sedang menjual hasil memulungku ke juragan rosok. Namun, saat itu juragan rosok tidak terlihat di tempat biasa ia menimbang hasil rosok dari pemulung-pemulung. Karena penasaran dan karena sudah terbiasa, aku pun masuk ke dalam rumahnya untuk mencarinya. Tak sengaja aku menengok ke dalam kamar mandi yang pintunya terbuka sedikit. Rupanya, ada seseorang di dalam. Namun, apakah itu juragan? Mengapa badannya terlihat kurus? Aku tambah penasaran. Dengan mengendap-endap, ku intip kamar mandi yang pintunya terbuka tersebut. Aku kaget bukan kepalang saat aku mendapati seseorang yang ku kenal sebagai sahabatku sedang membuka perut juragan rosok dengan pisau berkarat. Darah membanjiri lantai kamar mandi disertai aroma amis darah dan bau yang memualkan lambung, seperti bau jeroan sapi yang biasa tercium saat Idul Adha tiba. “Ini dia hati juragan rosok! Sedhilit maneh, aku iso sekti!” Bisik sahabatku yang penuh dengan cipratan darah juragan rosok. Tiba-tiba jantungku menghentak dengan sangat keras ketika ia berkata, “Juragan, sing sabar nggih. Bariki, gilirane Amin. Dadi, bariki juragan mesti duwe kanca neng alam kono.” Tanpa kuduga, sahabatku yang sedang sibuk mengambil hati juragan rosok menengok ke arah pintu di mana aku sedang mengintip. Tatapan penuh benci melayang ke mataku. Rasa takut di hatiku bergejolak, hingga aku tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba otakku memerintahkan tanganku untuk mengunci pintu kamar mandi dari luar. Ku turuti perintah otakku dengan segera. Ku dengar teriakan dari dalam kamar mandi, “Amin! Kebeneran awakmu neng kene. Reneya, Min! Rewangi aku ben aku bisa dadi sekti! Ayo, Min!” Bulu kudukku tambah berdiri dan aku tidak merasakan apa yang sedang terjadi secara nyata. Aku melihat almari besar di sebelah pintu kamar mandi. Ku seret dengan segera untuk menutupi pintu kamar mandi yang sudah ku kunci, agar Yono, sahabatku, tidak bisa kabur. Barulah mulai saat itu aku tak mengerti mengapa aku dikurung di dalam ruangan kecil bertralis besi ini dan kakiku terikat. Apakah aku gila karena telah menyaksikan Yono hendak memakan hati juragan rosok dan mendengar kata-kata Yono bahwa ia akan membunuh dan memakan hatiku selanjutnya? Mengapa hati juragan rosok dan hatiku yang ia incar? Siapa selanjutnya? Iblis apa yang sebenarnya sedang hinggap di hatinya? Aku tak habis pikir.
Kini mataku mengeluarkan air mata, dengan hati yang galau. Ingin aku berteriak, tapi tak bisa. Apa aku benar-benar gila? Apakah tempat di mana aku dikurung selama ini adalah rumah sakit jiwa?
Selesai.
0 comments:
Posting Komentar